Powered By Blogger

Rabu, 07 April 2010

Peran Keluarga dalam Mendidik Anak

Oleh Roma Hadi Tri Susangka

Mahasiswa UMM




KEBIASAAN akan membentuk sebuah kepribadian. Kebiasaan mengaplikasikan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari merupakan salah satu modal seorang anak dalam proses perkembangan kepribadiannya.
Keluarga adalah teladan pertama bagi pembentukan pribadi anak. Keyakinan-keyakinan, pemikiran dan perilaku anggota keluarga dengan sendirinya memiliki pengaruh yang sangat dalam terhadap pemikiran dan perilaku anak. Karena kepribadian manusia muncul berupa lukisan-lukisan pada berbagai ragam situasi dan kondisi dalam lingkungan keluarga. Keluarga berperan sebagai faktor pelaksana dalam mewujudkan nilai-nilai, keyakinan-keyakinan dan persepsi budaya sebuah masyarakat.
Orangtua berkewajiban mendidik, dan membesarkan anak-anaknya agar menjadi manusia yang berkemampuan dan berguna. Setelah seorang anak kepribadiannya terbentuk, peran orangtua selanjutnya adalah mengajarkan nilai-nilai pendidikan kepada anak-anaknya. Pendidikan yang diberikan oleh orangtua kepada anaknya adalah merupakan pendidikan yang akan selalu berjalan seiring dengan pembentukan kepribadian anak tersebut. Proses pendidikan bagi generasi muda mempunyai tiga pilar penting. Ketiga pilar itu, sekolah, masyarakat dan keluarga.
Pengertian keluarga tersebut nyata dalam peran orangtua. Di sinilah tanggung jawab orangtua untuk bisa memilah lembaga pendidikan yang baik bagi putra-putrinya dan sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya, melalui perencanaan keuangan pendidikan. Saat ini banyak lembaga keuangan di Indonesia seperti perbankan dan asuransi yang menawarkan produk berupa tabungan pendidikan dan asuransi pendidikan. Bisa sejak dari kandungan, buaian, usia balita ataupun di atasnya, agar anak terbiasa dengan hal-hal yang positif. Peran orangtua sangat penting dalam memberikan pendidikan afektif pada anak dan tidak semata-mata pendidikan kognitif saja.
Pola penyelenggaraan pendidikan nasional mengakibatkan ketiga pilar penting terpisah. Sekolah terpisah dari masyarakat atau orangtua. Peran orangtua terbatas pada persoalan dana. Orangtua dan masyarakat belum terlibat dalam proses pendidikan menyangkut pengambilan keputusan monitoring, pengawasan dan akuntabilitas. Akibatnya sekolah tidak mempunyai beban untuk mempertanggungjawabkan hasil pelaksanaan pendidikan kepada orangtua.
Anak-anak mempunyai karakteristik antara lain pertumbuhan fisik yang cepat dan matang. Semua potensi anak tersebut akan bermakna apabila dibina dan dikembangkan secara terarah sehingga mereka menjadi manusia yang memiliki keberdayaan. Tanpa bimbingan yang baik semua potensi itu tidak akan memberikan dampak positif, bahkan bisa terjadi hal yang sebaliknya yaitu menimbulkan berbagai masalah dan hambatan. Apalagi jika melihat ke depan, tantangan globalisasi makin besar, maka pembinaan pendidikan terhadap anak pun harus semakin dikuatkan.
Anak-anak harus berorientasi terhadap pandangan hidup yang bersifat positif dan aktif serta wajib menentukan dirinya sendiri, mementingkan kepuasan dari pekerjaan yang dilakukannya, berorientasi ke masa depan dan belajar merencanakan hidup secermat mungkin. Pendidikan merupakan sesuatu yang perlu mendapatkan prioritas.
Untuk melaksanakan hal itu, ada beberapa orangtua yang cenderung ekstrem, yaitu menarik dan menjauhkan anak dari semua hal yang dianggap memberi pengaruh buruk dari lingkungan. Orangtua menganggap sterilisasi merupakan cara yang terbaik dalam menjaga buah hati mereka. Padahal di sisi lain seorang anak kelak akan tumbuh dewasa dan hidup mandiri tanpa pengawasan keluarga. Anak tersebut haus sudah dapat mengatasi masalah, dan mempertahankan hidupnya sendiri.
Seorang anak pun membutuhkan sosialisasi dengan lingkungan tempat dia beraktivitas, baik di sekolah, di rumah, maupun di lingkungan dan masyarakat memiliki peran penting dalam pendidikan anak karena merupakan tempat mereka mengasah kemampuan berinteraksi sosial. Walaupun kondisi masyarakat kita kini yang sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai atau pemikiran seputar metrealisme, sekulerisme, hedonisme, dan liberalisme. Hal itu menjadi tantangan besar bagi keluarga untuk mendidik anak-anaknya.

Belajar dari Sepak Bola

Roma Hadi Tri Susangka
Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas Muhammadiyah Malang
roma_umm@yahoo.co.id

SEPAK BOLA merupakan olahraga yang paling populer di Indonesia, bahkan di Dunia. Kita sebagai pecinta sepak bola bisa menemukan banyak pelajaran positif atau hikmah dari permainan sepak bola yang dapat mengembangkan kehidupan kita sehari-hari.
Pertama, Kita harus lebih mengutamakan tim (kelompok) daripada kepentingan pribadi. tidak bersikap egois atau ingin menang sendiri, berjuang tanpa kenal lelah, tanpa putus asa, hingga tetes keringat terakhir, untuk mencapai tujuan yang dikehendaki.
Kedua, bersikap jujur, tidak berpura-pura, atau menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, tidak terlena dengan keberhasilan yang sudah dicapai tetapi terus berusaha memberikan yang terbaik, bersikap sportif, mau mengakui dan menerima kekalahan, berani meminta maaf ketika melakukan kesalahan dan patuh pada peraturan yang berlaku.
Ketiga, saat bermain sepak bola stamina pemain harus kuat, begitu juga dalam kehidupan kita sehari-hari, stamina jiwa maupun raga kita harus kuat, bila tidak, manusia akan dihinggapi rasa putus asa dan mengeluh yang berkepanjangan bila menerima cobaan atau ujian kehidupan.
Keempat, dalam permainan sepak bola, kita juga menemukan sistem keseimbangan yang diciptakan oleh Tuhan, apa itu ? Saat bola masuk ke gawang, pada saat bersamaan, dua kubu yang berlawanan, yang satu tertawa dan tepuk tangan dengan riuhnya, karena berhasil memasukankan bola ke gawang lawan, sementara yang "kebobolan" sedih dan diam membisu.
Begitu juga saat berakhirnya suatu pertandingan Final, pada saat bersamaan, yang menang dengan menggondol piala sambil bersuka cita, sementara yang kalah, sedihnya luar bisa. Itulah sistem keseimbangan hidup dan pelajaran hidup yang dapat kita lihat dan kita pelajari dalam permainan Sepak Bola.
Waktu dalam bermain sepak bola dibatasi hanya 2 x 45 menit. Kehidupan kita pun dibatasi oleh waktu. Dan permasalahan yang akan dihadapi pasti lebih rumit dari sepakbola, walaupun, kehidupan kita tidakakan diketahui kapan akan berakhirnya. Mulailah memelihara kebaikan dengan menegakan aturan dan etika yang ada. Tegakkan aturan tersebut bagi diri sendiri, keluarga, lingkungan masyarakat dan negara.

Pendidikan dan Kreativitas

Roma Hadi Tri Susangka
Penerima Dana Hibah Program Kreativitas Mahasiswa
Universitas Muhammadiyah Malang
roma_umm@yahoo.co.id

PENDIDIKAN merupakan proses pemberdayaan pesrta didik sebagai subjek sekaligus objek dalam membangun kehidupan yang lebih baik. Pendidikan sangat berperan sebagai faktor kunci dalam meningkatkan sumber daya manusia.
Sedangkan, kreativitas merupakan tuntutan pendidikan dan kehidupan pada saat ini. Kreativitas akan menghasilkan berbagai inovasi dan perkembangan baru. Individu dan organisasi yang kreatif akan selalu dibutuhkan oleh lingkungannya, karena mereka mampu memenuhi kebutuhan lingkungannya yang terus berubah. Individu dan organisasi yang kreatif akan mampu bertahan dalam kompetisi global yang dinamis dan ketat.
Sistem belajar mengajar yang dilakukan seorang pendidik, hendaknya berpusat pada peserta didik yang telah dicanangkan oleh pemerintah Indonesia, yakni melalui metode PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan).
Namun, tidak semua pendidik dapat mengajarkan materinya melalui metode pembelajaran PAIKEM itu, terdapat pola pikir maupun sikap yang menghambat kreativitas pendidik maupun peserta didik. Tanpa pendidik yang kreatif, sulit untuk membentuk siswa yang kreatif. Dengan menyadari adanya hambatan-hambatan terhadap kreativitas, pendidik akan dapat menjadi pemimpin yang lebih kreatif yang dengan lebih efektif dapat menciptakan suasana belajar mengajar yang memungkinkan pengembangan pola pikir dan sikap kreatif dalam diri siswa.
Siswa kreatif tidak hanya memiliki keunggulan yang cerdas dalam hal intelektual, tetapi juga memiliki kecerdasan emosional. Karena itu, kreativitas siswa perlu dirorong dan terus dikembangkan. Siswa yang lebih kreatif dari teman sebanyanya, biasanya akan berprestasi di kelas. Bahkan bukan tidak mungkin prestasinya juga meluas tidak semata di bidang pendidikan.
Peran guru dan orangtua dalam menumbuhkembangkan kreativitas siswa menjadi spirit terseniri. Demikian halnya dengan peran lingkungan dan pergaulan yang dipilih. Berbagai kesempatan untuk menampilkan kreativitas siswa pun harus diciptakan.
Pendidikan yang saat ini dilaksanakan di Indonesia cenderung lebih mengutamakan pengembangan kemampuan kognitif. Pendidikan pada tingkat sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, maupun pendidikan tinggi masih menunjukkan kecenderungan di atas.
Hal itu membuat para peserta didik seringkali mengalami kegagapan saat harus menyelesaikan masalah nyata, karena tidak semua masalah dapat diselesaikan secara efektif dengan menggunakan kemampuan kognitif saja. Maka kreativitas dalam dunia pendidikan seringkali menjadi syarat untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari secara efektif.

Minat Baca dan Perpustakaan Sekolah

Roma Hadi Tri Susangka
Penerima Dana Hibah Program Kreativitas Mahasiswa
Universitas Muhammadiyah Malang
roma_umm@yahoo.co.id

MEMBACA adalah salah satu kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dalam dunia pendidikan, baik di tingkat dasar, menengah, maupun tinggi. Karena kegiatan membaca merupakan salah satu proses tranformasi ilmu melalui cara melihat dan memahami isi yang tertulis di dalam buku pengetahuan maupun pelajaran.
Namun di sisi lain, diakui atau tidak, minat baca siswa khususnya di negara kita masih terhitung sangat rendah. Hal tersebut dapat dilihat dari intensitas kunjungan di Perpustakaan Sekolah. Rata-rata siswa melakukan kegiatan membaca pada saat belajar saja, di luar itu sedikit sekali yang suka membaca buku lain. Ada juga yang tidak membaca sama sekali.
Hal tersebut dapat disebabkan berbagai faktor, baik secara pribadi maupun secara umum. Secara pribadi, biasanya, berkaitan dengan kurangnya motivasi dalam diri siswa untuk menanamkan bahwa membaca itu suatu kegiatan yang perlu dan bermanfaat. Secara umum, faktor yang sangat berpengaruh besar adalah lingkungan sekitar siswa yang memang jauh dari kebiasaan atau budaya membaca.
Fungsi perpustakaan menjadi berkembang sebagai tempat pemupuk minat baca. Fungsi perpustakaan bagi siswa adalah untuk memperdalam dan menelusuri berbagai ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan kebutuhan hidupnya. Penguasaan konsep dasar yang baik memudahkan siswa untuk mengaplikasikan ilmunya pada situasi dan kondisi yang lebih berkembang yang akhirnya siswa akan memiliki inisiatif, daya kreatif, sikap kritis, rasional, dan objektif.
Rendahnya minat baca sering dijadikan alasan terhadap rendahnya mutu pendidikan di Indonesia tetapi orang sering lupa faktor penyebabnya. Harga buku yang tidak terjangkau, buku-buku pelajaran disajikan dengan bahasa yang kaku, tak tersedianya tempat baca yang nyaman serta tidak adanya waktu senggang karena padatnya kurrikulum merupakan faktor penyebabnya. Hal-hal tersebut sebenarnya bisa di antisipasi dengan adanya perpustakaan yang nyaman.
Perpustakaan sebagai lembaga penunjang pendidikan nampaknya masih dianggap kurang penting. Sehingga berbagai kebijakan yang diambil oleh pihak yang berwenang selalu lebih mengutamakan pengembangan di bidang lain. Perpustakaan berada di ruang yang sangat sempit, atau seruang dengan kantor guru atau di dekat WC, atau malah tidak ada sama sekali masih merupakan pemandangan yang umum di Indonesia ini.
Begitu juga dengan pegawai yang menanganinya masih jauh untuk di sebut profesional. Guru-guru yang malas dan pegawai tata usaha yang bermasalah sering di tempatkan di perpustakaan sekolah yang mengakibatkan citra perpustakaan sebagai tempat pembuangan daripada sebagai tempat penunjang pendidikan. Tak jarang pula pegawai perpustakaan adalah orang-orang yang sangat mahal senyum dan galak sehingga menjadikan perpustakaan sekolah sebagai tempat yang angker untuk dikunjungi.
Masalah perpustakaan adalah masalah serius. Pengelolaannyapun harus serius dan terfokus. Dengan pustakawan yang profesioanal, rasa tanggung jawab dari pihak sekolah, masyarakat, dan pemerintah yang tak hanya di bibir saja, peprustakaan di Indonesiapun bisa nyaman. Dengan perpustakaan yang nyaman, minat baca generasi muda Indonesia yang di gembar-gemborkan terpuruk itu, akan naik secara drastis. Dan Indonesia akan menjadi bangsa yang cerdas dan mandiri. Perpustakaan yang nyaman belum tentu mahal tetapi memerlukan penanganan dan keterlibatan yang serius berbagai pihak untuk mendukungnya.

Olahraga dan Prestasi

Roma Hadi Tri Susangka
Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas Muhammadiyah Malang
roma_umm@yahoo.co.id

OLAHRAGA menjadi salah satu kebutuhan masyarakat yang penting dengan membuat kita mejadi sehat.
Saat ini, pembangunan olahraga di Indonesia telah memiliki payung hukum dan landasan yaitu Undang-Undang No. 3 tahun 2005 mengenai Sistem Keolahragaan Nasional (SKN). UU tersebut mengamanatkan bahwa pemberdayaan olahraga berfokus pada tiga bidang yaitu olahraga rekreasi, pendidikan dan prestasi.
Fungsi prestasi olahraga adalah. Pertama, olahraga prestasi berperan sebagai memutar roda ekonomi melalui sponsorhip yang meningkatkan motivasi atlit. Kedua, olahraga mendorong pembangunan infrastruktur seperti stadion, bandara, jalan akses, pembersihan korupsi. Tambah lagi efek positif dalam pariwisata, media dan bisnis.
Maka, membudayakan olahraga sangatlah penting. Karena berperan dalam peningkatan prestasi dan kesejahteraan rakyat. Dengan membudayakan olahraga diharapkan dapat menjadi pondasi dalam mewujudkan prestasi olahraga yang maksimal dan pemicu tumbuh kembangnya pembangunanan di sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat melalui jasa dan industri olahraga.
Seorang atlit yang berprestasi akan mustahil jika muncul tiba-tiba, diperlukan proses yang panjang, disiplin diri yang kuat, berlatih keras dan berkesinambungan sejak dini dibawah binaan dan bimbingan pelatih profesional. Untuk itu, upaya pembenahan dan penguatan pondasi olahraga masyarakat menjadi program prioritas pembangunan keolahragaan.
Masyarakat olahraga Indonesia sangat merindukan lahirnya pahlawan-pahlawan olahraga yang mampu mengangkat harkat dan martabat bangsa di dunia internasional. Sebutlah nama Rudi Hartono sampai dengan era Susi Susanti di bulutangkis, roni patinasarani – bambang nurdiyansah di sepakbola, purnomo - mardi lestari di atletik, Tintus Arianto Wibowo – yayuk basuki di tenis, albert papilaya di tinju, dan banyak atlet legendaris bangsa yang berkali-kali membuat Indonesia Raya berkumandang di berbagai arena. Mereka bahkan tidak hanya mampu berbicara di ajang regional, ajang Asian Games, bahkan Olimpiade mereka pernah raih sungguh bagai bumi dengan langit.
Marilah kita kita lebih membulatkan tekad dan semangat guna mengibarkan dan mengamalkan secara konsisten panji-panji kebugaran dan kesehatan masyarakat serta prestasi olahraga Indonesia di pentas nasional maupun internasional.

Minggu, 28 Maret 2010

MUHAMMADIYAH DAN TAJDID (PEMBAHARUAN)

Oleh

Roma Hadi Tri Susangka 07340022







UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2010

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Muhammadiyah sebagai sebuah gerakan pemabaharuan di awal paruh abad dua puluh telah menunjukkan eksistensinya sebagai organisasi dinamis, cerdas dan kreatif dalam melihat tanda-tanda jaman. Sosok KH. Ahmad Dahlan mewakili kecerdasan itu. Beliau tampil elegan dengan gaya pemikiran bebas, kreatif sekaligus arif. Pada dirinya tampil kesempurnaan pemikir pembaharu yang utuh.
Memahami Muhammadiyah bukanlah memahami organisasi dalam pengertian administratif yang bersifat teknis saja, namun kita harus memahami Muhammadiyah sebagai gerakan Islam atau gerakan keagamaan (religious movement) yang terkandung di dalamnya sistem keyakinan (belief system), pengetahuan (knowledge), organisasi (organization) dan praktik-praktik aktifitas (practices activity) yang mengarah pada tujuan (goal) yang dicita-citakan.
Tampil sebagai gerakan pembaharu, Muhammadiyah mendapatkan pengikut yang kebanyakan kaum muda yang menginginkan perubahan dari kekolotan faham agama yang jumud atau mandeg. Percampuran faham agama dengan dogma Takhayul, Bid’ah dan Khurafat (TBC) yang melekat saat itu adalah pekerjaan besar yang dihadapi Muhammadiyah. Proses revitalisasi dengan jargon kembali kepada Al-Quran dan Sunnah menjadi alat yang ampuh untuk membangunkan kembali umat Islam dari tidur panjangnya. KH. Ahmad Dahlan dengan semangat tajdidnya mengagetkan banyak ulama saat itu, ia sempat dicaci sebagai kyai gila atau entah apalagi.
Pembaharuan yang pernah dilakukan Muhammadiyah di era KH. Ahmad Dahlan kini muncul kembali seiring dengan berubahnya kondisi sosial, politik, budaya dan pendidikan. Kemunculan gerakan pembaharuan pemikiran dalam pemahaman ajaran agama adalah hal yang wajar dan logis, karena budaya manusia selalu berkembang. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi juga sangat berpengaruh pada pola pikir manusia, termasuk dalam memahami teks-teks agama. Namun, satu prinsip yang perlu selalu dipegang adalah bahwa pembaharuan itu hendaknya tidak menghilangkan inti dari ajaran agama itu sendiri. Bila inti ajaran agama itu hilang, maka namanya bukan lagi pembaharuan, tetapi perusakan atau penggantian dengan hasil pikiran manusia sendiri tanpa mengindahkan inti ajaran agama yang pada dasarnya berasal dari wahyu Allah.

1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang penulis gunakan dalam makalah ini adalah
A. Apakah yang dimaksud dengan Tajdid (Pembaharuan) dalam Muhammadiyah?
B. Apakah contoh Tajdid dalam Muhammadiyah?

1.3 Tujuan
A. Dapat mengetahui Tajdid dalam Muhammadiyah.
B. Dapat mengetahui contoh Tajdid dalam Muhammadiyah.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Tajdid dan Muhammadiyah
Kehidupan adalah perubahan, dan perubahan itu harus bersifat progressif revolusioner. Hal ini membuktikan bahwa dalam diri manusia tidak berada dalam ruang yang kosong dan statis. Ada kesinambungan antara masa lampau, masa kini, dan masa yang akan datang. Perubahan sesuatu ada yang di kehendaki manusia maupun tidak. Karena itu dalam pergumulan eksistensi umat Islam sebagai khalifah fil ardh umat Islam senantiasa berhadapan dengan perubahan internal-eksternal sehingga mustahil untuk menutup diri dan pura-pura tidak tahu akan adanya perubahan yang terjdi.
Kata tajdid sendiri secara bahasa berarti “mengembalikan sesuatu kepada kondisinya yang seharusnya”. Dalam bahasa Arab, sesuatu dikatakan “jadid” (baru), jika bagian-bagiannya masih erat menyatu dan masih jelas. Maka upaya tajdid seharusnya adalah upaya untuk mengembalikan keutuhan dan kemurnian Islam kembali. Atau dengan ungkapan yang lebih jelas, Thahir ibn ‘Asyur mengatakan, Pembaharuan agama itu mulai direalisasikan dengan mereformasi kehidupan manusia di dunia. Baik dari sisi pemikiran agamisnya dengan upaya mengembalikan pemahaman yang benar terhadap agama sebagaimana mestinya, dari sisi pengamalan agamisnya dengan mereformasi amalan-amalannya, dan juga dari sisi upaya menguatkan kekuasaan agama.
Pengertian ini menunjukkan bahwa sesuatu yang akan mengalami proses tajdid adalah sesuatu yang memang telah memiliki wujud dan dasar yang riil dan jelas. Sebab jika tidak, ke arah mana tajdid itu akan dilakukan? Sesuatu yang pada dasarnya memang adalah ajaran yang batil dan semakin lama semakin batil, akan ditajdid menjadi apa? Itulah sebabnya, hanya Syariat Islam satu-satunya syariat samawiyah yang mungkin mengalami tajdid. Dalam Islam sendiri, seputar ide tajdid ini, Rasulullah saw. sendiri telah menegaskan dalam haditsnya tentang kemungkinan itu. Beliau mengatakan, yang artinya:
“Sesungguhnya Allah akan mengutus untuk ummat ini pada setiap pengujung seratus tahun orang yang akan melakukan tajdid (pembaharuan) terhadap agamanya.” (HR. Abu Dawud)
Tajdid yang dimaksud oleh Rasulullah saw di sini tentu bukanlah mengganti atau mengubah agama, akan tetapi seperti dijelaskan oleh Abbas Husni Muhammad maksudnya adalah mengembalikannya seperti sediakala dan memurnikannya dari berbagai kebatilan yang menempel padanya disebabkan hawa nafsu manusia sepanjang zaman.
Dan untuk itu, upaya tajdid sama sekali tidak membenarkan segala upaya mengoreksi nash-nash syar’i yang shahih, atau menafsirkan teks-teks syar’i dengan metode yang menyelisihi ijma’ ulama Islam. Sama sekali bukan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tajdid dalam Islam mempunyai 2 bentuk:
Pertama, memurnikan agama, setelah perjalanannya berabad-abad lamanya dari hal-hal yang menyimpang dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Konsekuensinya tentu saja adalah kembali kepada bagaimana Rasulullah saw dan para sahabatnya mengejawantahkan Islam dalam keseharian mereka.
Kedua, memberikan jawaban terhadap setiap persoalan baru yang muncul dan berbeda dari satu zaman dengan zaman yang lain. Meski harus diingat, bahwa “memberikan jawaban” sama sekali tidak identik dengan membolehkan atau menghalalkannya. Intinya adalah bahwa Islam mempunyai jawaban terhadap hal itu.
Berdasarkan ini pula, maka kita dapat memahami bahwa bidang-bidang tajdid itu mencakup seluruh bagian ajaran Islam. Tidak hanya fikih, namun juga aqidah, akhlaq dan yang lainnya. Tajdid dapat saja dilakukan terhadap aqidah, jika aqidah ummat telah mengalami pergeseran dari yang seharusnya.
Muhammadiyah sejak kelahirannya di Kauman, Yogyakarta pada tanggal 18 November 1912 M atau 8 Dzulhijjah 1330 H memang memiliki karakter atau watak kuat sebagai gerakan tajdid. KH. Ahmad Dahlan selaku pendiri Muhammadiyah dikenal pula sebagai mujadid atau pembaru karena sejumlah gagasan dan langkah gerakannya yang bersifat pembaruan. Kelahiran Muhammadiyah dan ketokohan KH. Ahmad Dahlan pada awal abad ke-20 di negeri tercinta ini memang benar-benar membawa pembaruan ketika saat itu umat Islam berada dalam kondisi jumud (statis) dari segi paham dan pemikiran keagamaan serta tertinggal dalam kondisi kehidupan.
Muhammadiyah yang kini usianya sudah seabad merupakan sebuah fenomena tersendiri dalam khasanan sejarah Islam di Indonesia. Muhammadiyah telah banyak menghiasi berbagai ruang dan tempat sejarah Indonesia dari mulai pra-kemerdekaan sampai pasca kemerdekaan, eksistensi Muhammadiyah dalam mengisi kemerdekaan tak perlu di ragukan lagi.
Seiring perkembangan masyarakat yang dinamis dan sangat kompleks memaksa Muhammadiyah untuk menyesuaikan dirinya dengan perkembangan tersebut. Sebagaimana organisasi-organisasi keagamaan lainnya, Muhammadiyah dituntut oleh keadaan untuk menilai kembali identitasnya agar tetap relevan dan mampu mengatasi tantangan-tantangan yang ada yang semakin kompleks.
Muhammadiyah menyebarluaskan ajaran Islam yang komprehensif dan muliti aspek melalui dakwah untuk mengajak pada kebaikan (Islam), al amr bil al makruf wa al nahi al munkar (mengajak kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar) sehingga umat manusi memperoleh keberuntungan lahir dan bathin dalam kehidupan ini. Dakwah yang demikian itu mengandung makna bahwa Silam sebagai ajaran selalu bersifat tranformasional; yakni dakwah yang membawa perubahan yang bersifat kemajuan, kebaikan, kebenaran, keadilan dan nilai-nilai keutamaan lainnya untuk kemaslahatan serta keselamatan hidup umat manusia tanpa membeda-bedakan ras, suku, golongan, agama dan lain-lain.
Surat Ali Imran ayat 110 yang artinya : “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”.

2.2 Contoh Tajdid dalam Muhammadiyah
Muhammadiyah dikenal sebagai suatu organisasi medernis (Tajdid). Kesediaan Muhammadiyah untuk mengadopsi metode-metode modern (Barat) dalam kehidupan organisasi sehari-hari, Misalnya dalam sistem pendidikan, Muhammadiyah mengambil alih sistem pendidikan barat yakni dengan tanpa memisahkan (dikhotomi) antara pendidikan agama dan pendidikan umum, Muhammadiyah hadir dengan memadukan mata pelajaran agama dan umum, ini merupakan upaya praktis modernisasi yang dilakukan oleh Muhammadiyah. Itu salah satunya, dan salah satu studi kasus terbaru adalah Muhammadiyah tengah mengembangkan strategi dakwah terbaru dengan melibatkan teknologi informasi (TI) sebagai sarananya.
Seiring makin kompleksnya permasalahan yang harus dihadapai oleh Muhammadiyah, sering pada akhir-akhir ini menimbulkan tudingan bahwa organisasi ini sedang mengalami kemandekan. Untuk itu, sangat menarik kiranya Muhammadiyah mencermati dan berdakwah “amar ma’ruf nahyi mungkar” dengan menggunakan media teknologi informasi (TI). Mengingat era kini sudah memasuki era globalisasi.
Dewasa ini teknologi informasi memang sudah menyenyuh di berbagai lapisan baik masyarakat ke atas, menengah, ke bawah maupun berbagai organisasi yang tidak bisa lepas dari TI. Muhammadiyah dan TI sudah tentu saling bersinergi untuk membangun masyarakat yang sebenar-benarnya, sebagaimana yang menjadi tujuan utama Muhammadiyah. Selain itu, kehadiran TI saat ini seakan memiliki fungsi dan efek yang sama. Artinya, fungsi dari kehadiran TI juga telah melahirkan dampak-dampak negatif yang ada di masyarakat.
Tidak bisa ditawar-tawar lagi, umat Islam harus mampu menguasai dan memanfaatkan sebesar-besarnya perkembangan teknologi informasi untuk berdakwah. Bahkan Ketua Muslim Information Technology Association (MIFTA) Dr Kun Wardhana Abiyanto mengatakan “Dari sisi dakwah, kekuatan internet sangat potensial untuk dimanfaatkan”.
Bahkan ada sejumlah kalangan beranggapan umat Islam sangat jauh tertinggal di bidang pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan adanya globalisasi, kompetisi tentu akan semakin berat. Maka otomatis kita kan dituntut untuk berlomba-lomba menguasai bidang teknologi informasi serta mencari ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya. Karena era globalisasi tentu bukan lagi bersaing dari segi modal saja, melainkan sumber daya manusia yang bermutu dan berkualis. Sebagai umat Islam perlu mempersiapkan diri menghadapi tantangan zaman tersebut.
Peran Muhammadiyah sebagai gerakan Tajdid (pembaharuan) harus mampu menjawab tantangan masa depan. Bagaimana strategi dakwah Muhammadiyah dalam menjawab tantangan era globalisasi dan informasi saat ini. Muhammadiyah dan teknologi informasi saling bersinergi. Apabila di cermati sejak kelahiran dan perkembangannya, Muhammadiyah menunjukan identitas sebagai gerakan Tajdid atau pembaharuan. Muhammadiyah yakin bahwa dengan memahami secara sungguh-sungguh, baik dan benar akan ajaran Islam, maka implementasinya tentu akan baik pula.

BAB III
KESIMPULAN


“PERUBAHAN BUTUH PERJUANGAN

PERUBAHAN BUTUH
PENGORBANAAN

PERUBAHAN BUTUH
KOMITMEN

PERUBAHAN BUTUH KEYAKINAN
UNTUK BISA MELAKUKANNYA

DAN PERUBAHAN BUTUH
TINDAKAN

KITA PASTI BISA”

SUKRON KASIRON

Rabu, 10 Februari 2010

Fenomena Facebook

Facebook memang fenomenal, selain berhasil mengangkat kasus Prita Mulyasari dan pengumpulan koin untuk Bilqis, melalui facebook juga beberapa kasus kriminal seperti kegiatan prostitusi online sampai penculikan anak sudah terjadi. Baru-baru ini Nova menjadi korban facebook. Nova adalah gadis belia berusia 14 tahun asal Sidoarjo. Melalui facebook Nova berkenalan dengan seorang pemuda bernama Ari di Tangerang, yang juga merupakan pemuda ingusan. Dan perkenalan itu tidak sampai disitu saja, mereka yang belum pernah bertemu sebelumnya seakan sudah buta gara cinta maya, sehingga orang tua mereka dan saudara mereka seolah sudah dianggap sebagai penjahat yang menghalangi niat mereka untuk menjalin asmara. Akhirnya setelah Nova bersama keluarga mengunjungi pernikahan saudaranya di Jati Ungu, Tangerang. Ternyata Nova dan Ari sudah sudah menentukan lokasi untuk bertemu usai acara pernikahan saudaranya. Nova dan Ari kabur. Selama 6 hari orang tua dan keluarga Nova kebingungan mencari keberadaan anaknya. Dengan bantuan polisi, akhirnya Nova dan Ari ditemukan polisi disebuah rumah makan. Usut punya usut, ternyata Nova dan Ari sudah melakukan hubungan layaknya suami istri. Kalau sudah begini, saya langsung berpikir untuk mencari kambing hitam, siapa yang salah. Nova? Ari? Orang tua? Facebook? Atau Aku? Arhrhhh..., kenapa Nova begitu percaya sama Ari, sehingga Nova dengan mudah mau menyerahkan kehormatan tertinggi milik kaum hawa itu kepadanya? Kenapa Ari dengan tega melakukan demikian kepada Nova, tidakkah dia ingat saudara perempuannya, tidakkah ia ingat pada ibu yang telah membesarkannya? Kenapa orang tua Nova tidak bisa menjaga anak gadisnya? Kenapa orang tua Ari tidak bisa mengawasi tingkah laku Ari? Oh..facebook, engkau juga punya peranan dalam hal ini. Keberadaanmu sudah melenakan jutaan bahkan anak-anak sampai kakek-nenek selalu sibuk dengan jari dan jempol mereka yang terus bergerak untuk update status. Aku kenapa aku tidak setuju dengan status facebook haram? Teknologi memang tak perlu disalahkan, tetapi nyatanya banyak sudah yang salah dalam menggunakannya. Terkadang saya juga terlalu sok mengkritik mereka yang sudah memprediksikan kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi akibat facebook. Mereka saya yakin bertindak bukan tanpa berpikir dan tanpa pertimbangan, tetapi aku sering salah menanggapi hasil pemikiran mereka. Facebook juga sudah memenjarakan banyak orang gara-gara menulis status yang dianggap sebagai perbuatan yang tidak menyenangkan. Kasus lain lagi seperti penjualan ABG lewat facebook, juga semakin membuat aku merasa bersalah. Tapi aku tetaplah aku, rasa salah itu terkadang hanya datang sepintas, dan sesaat kemudian aku lupa. Lewat beberapa detik untuk kemudian menghilang ditelan waktu untuk kemudian aku merasa akulah yang paling benar. Malang benar nasibmu Nova, gadis belia yang harus membayar dengan mahal gara-gara facebook. Maafkan aku.

Rabu, 02 Desember 2009

Hukum Kita dan Pisau Emak

KEMARIN Emak menyuruhku mengasah pisau yang ada di dapur agar kembali tajam. Aku bertanya kepada Emak, “Mak, punggung pisaunya ditajamkan tidak? Emak menjawab tanpa melihat, “Ya nggak to, pisau itu kan hanya sisi bawahnya saja yang di pakai untuk memotong.” Setelah selesai mengasah, aku berikan pisau itu kepada Emak untuk memotong daging jatah kurban. Hari ini aku ingat pisau Emak yang seperti hukum kita, sangat tajam di bawahnya namun di atasnya tumpul. Hukum kita begitu sulit menangkap Si A dan begitu mudah meringkus Si B. Hal itu menjadi ironi yang sangat nyata di negeri ini. Hukum seakan sudah menjadi barang dagangan yang dapat di perjualbelikan, seperti daging sapi di Super Market yang super mahal, rakyat kecil tidak sanggup untuk membelinya. Mereka hanya setahun sekali menikmati daging sapi itu kalau mendapat jatah dari orang yang berkurban. Namun, orang yang berduit atau penguasa sangat mudah membeli daging sapi itu walau dengan harga yang super mahal. Sekarang siapa yang meiliki duit dan kekuasaan, maka dapat memenangi dan mengondisikan kasus-kasus yang menjeratnya. Mereka dapat menyuap para Mavia Hukum yang sudah terstruktur dari para oknum penegak hukum di negeri ini. Namun, rakyat kecil yang tidak meiliki uang maka bersiaplah hukum akan menindaknya dengan cepat dan keras. Seperti pencuri Cacao, Semangka, Ayam dan lain sebagainya yang akhir-akhir ini gencar di beritakan di media cetak maupun elektronik. Mereka langsung mendapatkan hukuman yang sangat tidak proporsional dengan kesalahannya. Keadilan hanya milik orang berduit. Kalau ada duit maka kasus pun beres. Aku dan Emak kini takut bermasalah dengan hukum di negeri ini. Karena aku dan Emak sebagai rakyat kecil tidak mampu untuk membayar atau menebus para mavia hukum. Dan aku pun tahu kalau hukum kita itu sangat tajam, saat menindak kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh rakyat kecil.

Minggu, 29 November 2009

Peran Mahasiswa dan Perguruan Tinggi

Oleh Roma Hadi Tri S Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sasatra Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang MAHASISWA sebagai generasi muda merupakan asset dalam penerusan estafet kepemimpinan bangsa dan negara di masa depan. Karena dilihat dari segi kesempatan para mahasiswa mempunyai kesempatan dan peluang yang sangat besar untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Peranan mahasiswa yang pertama adalah agent of change, di mana Mahasiswa sebagai agen suatu peubahan yang diharapkan dalam rangka kemajuan bangsa. Dalam perubahan ini mahasiswa harus menjadi garda terdepan. Kedua, mahasiswa sebagai agent of problem solfer. Di mana, mahasiswa harus menjadi generasi yang memberikan solusi dari setiap persoalan yang terjadi di dalam lingkungan dan bangsanya sendiri. Mahasiswa bisa membantu jalan keluar terhadap kondisi sulit yang diambil oleh pengambil keputusan. Ketiga, mahasiswa sebagai agent of control. Fungsi ini dilakukan terhadap penyimpangan yang dilakukan oleh penguasa Negara. Perguruan tinggi mempunyai tugas, kewajiban, tanggung jawab sebagi lembaga pendidikan tinggi serta selalu berusaha melakukan perbaikan-perbaikan baik secara akademik maupun nonakademik, guna memperoleh output yang berkualitas tinggi yang mempu menghadapi tantangan baik di masa kini maupun di masa depan. Secara nonakademis pembinaan mahasiswaguna mengisi waktu luang selama mereka tidak melakukan kegiatan akademiknya, karena waktu tatap muka dengan tenaga edukatif sanagt sedikit. Untuk kea rah pencapaian tujuan tersebut sudah selayaknya jika perguruan tinggi selalu mengupayakan agar suasana kampus kondusif. Baik kondusif dalam kegiatan kurikuler, ko-kurikuler, maupun kegiatan ekstra kurikuler. Peningkatan output mahasiswa menjadi perhatian besar sebagai raw input. Mahasiswa dan perguruan tinggi saling membutuhkan dalam ham pewujudan sikap profesionalisme. Daya saing bangsa tergantung pada pengetahuan, values dan ketrampilan tenaga kerjannya. Faktor-faktor sebagai penentu daya saing diantarany: kesempatan bekerja, system peradilan yang fair, pajak, birokrasi, hak cipta, inovasi teknologi dan pendidikan, hubungan internasional. Peran perguruan tinggi ini hanya mampu dicapai denagn peningkatan kualitas sistem pendidikan yang ada, yang mencakup peningkatan SDM (dosen dan karyawan), kurikulum, strategi pembelajaran, dan sarana akademiknya.

Selasa, 27 Oktober 2009

Toleransi dan Bahasa

TOLERANSI dalam dataran terminologi lugawi mendapat pengertian kesediaan untuk mau menghadapi faham, yang lebih berbeda dari faham yang kita anut. Terminologi ini bersifat umum, artinya ia merupakan konsekuensi langsung atau tak langsung dari dimensi kesosialan yang dimiliki oleh manusia sebagai makhluk sosial. Dimensi kesosialan, paling nyata ditunjukan pada bahasa, karena bahasa bukan an sich sebagai sarana berkomunikasi verbal saja. Tetapi ia juga mengantarkan realitas, sejarah dan berikut segala nilai-nilai yang mendukungnya kepada manusia. Dengan berpijak dari laku bahasa yang dipergunakan seseorang dapat diukur tingkat kedewasaan serta tingkat kesadaran ilmiahnya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, toleransi berasal dari kata “toleran” yang berarti batas ukur untuk penambahan atau pengurangan yang masih diperbolehkan. Secara etimologis, toleransi adalah kesabaran, ketahanan emosional, dan kelapangan dada. Dari kajian bahasa di atas, toleransi mengarah pada sikap terbuka dan mau mengakui adanya berbagai macam perbedaan, baik perbedaan suku bangsa, warna kulit, budaya, agama, serta bahasa itu sendiri. Oleh karena itu, bahasa memang menunjukan suatu bangsa. Karena semua bentuk nilai luhur dan bentuk-bentuk perengkuhan akan nilai-nilai itu, oleh manusia atau masyarakat bangsa sebagai pengguna bahasa itu, secara ekosetoris dalam praksis sosial kemasyarakatan dan sosial budaya tercermin secara dasar dalam bahasanya. Kerukunan juga tercermin dalam bahasa. Oleh karena itu, Indonesia memang menjadi negara yang sangat luar biasa dalam hal toleransi. Hampir tak ada masyarakat di dunia ini yang bisa bersikap toleran sebagaimana masyarakat Indonesia. Di Jawa misalnya, ada satu keluarga di mana anggota masyarakatnya berbeda antar satu dan lainnya. Namun selau hidup rukun dalam satu ikatan keluarga yang kuat. Kerukunan itu juga ditunjukan tidak saling mengganggu atau bahkan saling membantu walaupun memiliki perberbedaan baik berbeda suku, warna kulit, budaya, agama, serta bahasa. Walaupun dalam realitanya menjadi intoleran lebih mudah daripada bersikap toleran. Dan jalan menuju sikap toleran bukanlah jalan tol yang mulus dan tanpa halangan. Namun jalan menuju toleransi adalah jalan kontestrasi untuk mengatasi intoleransi itu sendiri. Oleh karena itu, mulai sekarang hentikan semua kekerasan, intimidasi, penyerangan sebuah kelompok satu kepada kelompok yang lain, bahkan terorisme yang dapat mengacaukan kestabilan sosial, ekonomi, dan politik negeri ini. Selalu gunakanlah Bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu ketika berkomunikasi verbal dengan orang yang berbeda suku, seperti yang tertuang dalam sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober tahun 1912 yaitu berbahasa satu bahasa indon

Perusahaan dan Karyawan

DALAM lingkungan industrial yang begitu cepat berpengaruh seiring dengan kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang berdampak pada terciptanya alat-alat produksi yang lebih efisien dan efektif yang menyebabkan semakin menurunnya prosentase penggunaan tenaga kerja manusia dalam suatu perusahaan. Namun demikian, Sumber Daya Manusia cukup memegang peranan yang sangat penting karena betapapun sempurnanya peralatan kerja, tanpa adanya tenaga kerja manusia, maka peralatan tersebut tidak ada artinya. Maka dari itu manajemen perusahaan dituntut untuk tetap memelihara hubungan yang baik dengan karyawan dan salah satu kunci dalam mengembangkan organisasi perusahaan yang efektif dan efisien adalah dengan cara bagaimana perusahaan menggunakan Sumber Daya Manusia yang dengan optimal. Karena tenaga kerja merupakan faktor penggerak dari keseluruhan aktifitas perusahaan. Pimpinan suatu perusahaan harus banyak memberikan semangat kerja dan produktifitas kerja. Selain itu, pimpinan perusahaan juga harus memperhatikan kebutuhan karyawan agar karyawan tersebut dapat diajak untuk bekerjasama dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Pemberian kompensasi perusahaan merupakan suatu motivasi yang dapat menimbulkan semangat kerja karyawan pada bagian produksi. Pemberian kompensasi yang bersifat finansial dapat berupa gaji, upah dan insentif, sedangkan pemberian kompensasi yang bersifat non finansial dapat berupa promosi jabatan, penghargaan atas prestasi kerja, lingkungan kerja yang nyaman, dan rekan kerja yang menyenangkan. Adanya tingkat kehadiran yang tinggi dapat memberikan gambaran bagaimana kondisi kepuasan karyawan dalam bekerja, untuk itu penting sekali bagi perusahaan untuk memberikan perhatian terhadap kompensasi secara tepat, adil dan harus mempunyai dasar yang rasional dan dapat diperhatikan karena menyangkut faktor emosional dari sudut pandang karyawan. Kompensasi diberikan tepat dan adil serta dapat memenuhi kebutuhan karyawan dan karyawan akan merasa terpuaskan dan lebih semangat lagi dalam bekerja. Karyawan yang telah mendapat perhatian, kesejahteraan dan ketenangan dalam bekerja, maka karyawan tersebut akan mempunyai semangat kerja dan tanggung jawab terhadap pekerjaan yang mereka lakukan. Hal ini merupakan imbalan balik antara karyawan dan perusahaan. Karena semangat dan gairah kerja karyawan yang tinggi adalah sebagai pengerak utama seseorang dalam bekerja, maka akan berpengaruh terhadap hasil kerjanya. Apabila suatu perusahaan mampu meningkatkan semangat kerja karyawan, maka akan memperoleh banyak keuntungan salah satunya adalah pekerjaan lebih cepat untuk diseleseikan.

Revolusi untuk Hemat Energi

PERUBAHAN iklim akibat pemanasan global (global warming), pemicu utamanya adalah meningkatnya emisi karbon, akibat penggunaan energi fosil (bahan bakar minyak, batubara dan sejenisnya, yang tidak dapat diperbarui). Penghasil terbesarnya adalah negeri-negeri industri seperti Amerika Serikat, Inggris, Rusia, Kanada, Jepang, China, dan lain-lain. Ini diakibatkan oleh pola konsumsi dan gaya hidup masyarakat negara-negara utara yang 10 kali lipat lebih tinggi dari penduduk negara selatan. Negara-negara berkembang meski tidak besar, ikut juga berkontribusi dengan skenario pembangunan yang mengacu pada pertumbuhan. Industri penghasil karbon terbesar di negeri berkembang adalah perusahaan tambang (migas, batubara dan yang terutama berbahan baku fosil). Bahkan, Indonesia tahun ini tercatat pada rekor dunia “Guinnes Record Of Book” sebagai negara tercepat yang rusak hutannya. Listrik juga menjadi sumber energi yang paling dibutuhkan oleh masyarakat modern. Beragam peralatan modern untuk hiburan maupun untuk bekerja, membutuhkan energi ini. Kebutuhan akan energi ini selalu meningkat tiap tahunnya, sementara kemampuan pemerintah dalam menyediakan energi ini sangat terbatas. Tidak dapat dihindarkan, terjadilah krisis energi. Kegiatan pembangunan di Indonesia mengarah kepada industrialisasi, sehingga energi menjadi isu utama dan penting dalam kerangka menunjang model pembangunan tersebut. Krisis energi, terutama listrik, yang terjadi menjelang akhir abad ke-20 mengisyaratkan bahwa suplai energi listrik tidak dapat mengimbangi tingginya laju permintaan. Pertumbuhan konsumsi energi listrik sebesar 15% per tahun cukup menakjubkan di mana hal ini juga setara dengan tingkat pertumbuhan energi total secara umum, yang mencapai di atas 8% per tahun pada kurun 1965-1980, hal ini jauh di atas tingkat pertumbuhan energi negara industri sebesar 3% per tahun. Seiring dengan meningkatnya konsumsi energi maka meningkat pula permasalahan lingkungan hidup, mulai dari produksi energi (pertambangan dan proses pembuatan energi primer), transportasi (penyaluran) energi primer, produksi dan transmisi, serta distribusi energi sekunder (listrik). Pada areal pertambangan sumber energi fosil (seperti minyak bumi, batubara dan gas alam) terjadi perubahan bentang alam dan dampak terhadap lingkungan hidup yang harus menjadi perhatian. Demikian pula halnya dengan dampak lingkungan yang diakibatkan oleh beroperasinya pembangkit tenaga, baik tenaga gerak maupun tenaga listrik. Jadi masing-masing dari kita dapat berbuat sesuatu sebagai bagian kepedulian kita pada lingkungan hidup. Banyak yang dapat kita lakukan. Perbanyak pengetahuan tentang bumi dan per-masalahannya dari berbagai sumber yang banyak tersedia di buku, internet, LSM lingkungan, dan lain sebagainya. Mari bersama menciptakan dunia lebih baik dengan berhemat energi.

Pemuda dan bahasa

BULAN Oktober banyak sekali sebutannya. Ada yang mengatakan sebagai bulan saktinya pancasila, bulan pemuda, dan ada pula yang menyebutnya sebagai bulan bahasa. Yang menarik bagi penulis, adalah hubungan antara bulan pemuda dan bulan bahasa. Pemuda di sini penulis maksudkan kepada pelajar. Sedangkan bahasa di sini di hubungankan dengan sastra. Antara para pelajar dan sastra perlu diperhatikan perkembangannya. seharusnya sastra sesering mungkin dibicarakan. Karena kita berharap dari gebrakan terus menerus itu, bisa diharapkan tumbuh dan mentradisi keakraban pada sastra itu sendiri, sehingga mereka bisa lebih menyukainya. Hal itu akan menghilangkan kesan-kesan bahwa pelajar lebih suka kepada karya-karya pop daripada kepada karya-karya sastra. Kenyataannya, pelajar lebih cenderung membaca cerpan atau novel pop yang mengarah pada dunia khayal dan isinya yang kurang berbobot. Sedangkan bacaan, cerpen atau novel yang bernilai sastra seakan-akan disingkirkan. Sedikit “kesalahan” bahwa para pelajar kurang mencintai bacaan bernafaskan sastra, tak bisa dituduhkan sepenuhnya kepada mereka. Karena itu diperlukan analisis lebih serius dan satu persatu untuk mencari kejelasan sebab-sebab pelajar kurang mencintai bacaan sastra. Pada dasarnya semua pelajar menyukai bacaan yang mengandung nilai keindahan, penuh khayalan dan sedikit improvisasi. Persoalannya sekarang, kewajiban membaca karya-karya sastra tidak dijadikan kebutuhan formal dan kurikuler yang ditradisikan dalam lingkup pendidikan kita. Tidak ada latihan-latihan yang mengarah pada penajaman kepekaan para pelajar yang meluangkan waktunya untuk membaca sastra, misalnnya pelajar yang membaca di perpustakaan sekolah, yang bisa dihitung dengan jari. Gejala itu bisa dilihat dari frekuensi peminjaman buku di perpustakaan yang dilakukan para siswa, Persoalan sesungguhnya yang paling penting, bagaimana kita mengarahkan para pelajar untuk berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Sebab bahasa Indonesia yang baik sebagai salah satu syarat untuk mencintai sastra. Di sinilah peran guru sangat dibutuhkan. Dalam bulan bahasa ini, marilah kita membuka diri untuk lebih mencintai bahasa Indonesia secara utuh (juga sastra khususnya). Sebab kita tahu, dalam karya sastra banyak hal yang dapat kita pelajari. Peranan guru dalam menempa murid sangatlah mutlak untuk bisa mendekatkan dan memasyarakatkan sastra. Sebagai catatan, perlu kita mengenal lebih dulu karya sastra, sebelum lebih jauh mendalaminya. Sebab, dalam mengenal karya sastra kita tidak bisa bersifat tanggung. Jika kita memahami apa sebenarnya yang ada dalam karya sastra, kita akan dibawa oleh alur kenyataan yang tersirat dan bukan hanya yang tersurat. Maka pelajar sebagai pemuda yang akan menjadi agent of change. Selalu memunculkan kreativitas serta intelektualitas dan menjadikan generasi penerus bangsa demi kemajuan Negara di masa mendatang. Melalui bahasa, majulah pemuda Indonesia..

Jumat, 18 September 2009

Strandarisasi Pelayanan KA

Oleh Roma Hadi Tri Susangka Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang STANDARISASI pelayanan transportasi sangat diperlukan sebagai perangikat independen yang menjembatani harapan konsumen, untuk memperoleh layanan ketika menggunakan fasilitas umum. Standarisasi pelayanan ini juga diperlukan oleh perusahaan perkeretaapian dan para pembuat kebijakan yang berwenang membuat peraturan penggunaan fasilitas umum. Undang-undang No 23 Tahun 2007 tentang perkeretaapian, pada BAB XIII (Peran Serta Masyarakay) Pasal 172 bahwa masyarakat berhak: a. memberikan masukan kepada Pemerintah, Penyelenggara Prasarana Perkeretaapian dalam rangka pembinaan, penyelenggaraan, dan pengawan perkeretaapian. Standard kualitas pelayanan ini sangat dibutuhkan sebab semua pihak yang terkait dengan sarana transportasi KA yaitu pengguana, perusahaan perkeretaapian dan regulator, perlu mengukur tingkat pencapaian pelayanan perusahaan perkeretaapian kepada penumpang. Layanan yang dibutuhkan para penumpang diantaranya adalah informasi dan tiket, ketepatan waktu, kenyamanan, kebersihatan dan kesehatan, penanganan keluhan, fasilitas bagi orang cacat, dan sebagainya. Perusahaan perkeretaapian harus benar-benar menunjukan keseriusanya dalam pengimplementasian standard pelayanan tersebut.

Lindungi Usaha Kecil

Oleh Roma Hadi Tri Susangka Staf ahli di Produksi Jamur PM Blitar, Kuliah di UMM roma_umm@yahoo.co.id Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Indonesia semakin berkembang sejalan dengan meningkatnya permintaan produk dari sektor ini baik untuk pangsa lokal maupun luar negeri. Di Indonesia sendiri jumlah perusahaan kecil dan menengah sangatlah banyak, bahkan mencapai 90 persen dari populasi jumlah perusahaan. Hal inilah yang menyebabkan pemerintah harus lebih memperhatikan usaha kecil dan menengah tersebut untuk dapat membantu meningkatkan perekonomian bangsa. Banyak sektor UKM yang mempunyai kontribusi cukup besar untuk pertumbuhan perekonomian di Indonesia. Diantara mereka mendirikan UKM diklasifikasikan mulai dari hobi, sumber daya alam, lokasi, sumber daya manusia, dan lain sebagainya. Keterbatasan modal kerja merupakan salah satu faktor yang menjadi tantangan dan kelemahan pengusaha UKM untuk dapat lebih mengembangkan usahanya. Faktor ini pula yang mengakibatkan sulitnya mereka untuk dapat bersaing dengan perusahaan besar melalui fasilitas, teknologi, maintenance, ataupun metode produksinya. Para ekonom menyebutkan adanya lima keadaan yang memungkinkan usaha kecil dan menengah dapat mampu bertahan terhadap persaingan dari perusahaan-perusahaan besar. Pertama, usaha kecil dan menengah tersebut bergerak dalam pasar yang terpecah-pecah (fragmented market). Dalam pasar yang demikian, fenomena skala ekonomi tidak terlalu penting, sehingga keuntungan yang diperoleh dari skala usaha tidaklah menonjol. Pasar semacam ini memiliki segmen-segmen konsumen yang sangat bervariasi. Kedua, usaha kecil menghasilkan produk-produk dengan karakteristik elastisitas pendapatan negatif. Artinya, jika terjadi kenaikan pendapatan masyarakat, permintaan terhadap produk-produk tersebut cenderung turun, bukan sebaliknya. Ketiga, usaha kecil mempunyai tingkat heteroginitas yang tinggi, khususnya heteroginitas teknologi yang bisa digunakan. Dengan heteroginitas teknologi yang ada, usaha kecil dapat menghasilkan produk-produk yang beraneka ragam. Variasi produk merupakan salah satu determinan terpenting untuk kelangsungan hidup usaha kecil. Keempat, usaha kecil tergabung dalam suatu cluster (sentra industri) sehingga mampu memanfaatkan efisiensi kolektif, misalnya dalam pembelian bahan baku, pemanfaat tenaga kerja. Kelima, usaha-usaha kecil diuntungkan oleh kondisi geografis, yang membuat produk-produk usaha kecil memperoleh proteksi alami karena pasar yang dilayani tidak terjangkau oleh produk-produk usaha skala besar. Oleh karena itu, usaha kecil dapat memainkan peranan penting untuk menjaga dinamika pertumbuhan dan perluasan manfaat ekonomi bagi masyarakat luas. Usaha kecil berperan bukan saja pada aspek sosial seperti pengentasan kemiskinan, pemerataan kesempatan kerja, tetapi juga dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi pada sektor produksi dan ekspor. Maka pemerintah harus lebih memperhatikan UKM tersebut, karena dapat membantu meningkatkan perekonomian bangsa.

Senin, 14 September 2009

Kotak Ajaib Vs Kekerasan

Oleh Roma Hadi Tri Susangka Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang roma_umm@yahoo.co.id KOTAK AJAIB memang menjadi primadona masyarakat Indonesia. Hampir semua masyarakat dari tingkat ekonomi kelas bawah hingga atas, tak mau ketinggalan untuk memiliki benda yang satu ini. Itulah televisi yang biasa kita lihat dalam istana para konglomerat maupun gubuk-gubuk rakyat jelata. Benda ini dianggap sebagai kebutuhan primer oleh mayarakat kita sekarang. Televisi dengan tayangannya memang dapat membuat orang bahagia ataupun tertawa terbahak-bahak atau justru dapat membuat orang sedih sampai terisak-isak. Pengaruhnya sangat besar bagi pemirsa setianya. Televisi memang memiliki dampak positif maupun negatif. Dampak positif dari tayangan televisi antara lain seperti menjadi sumber informasi tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi dengan cepat. Televisi dapat berfungsi sebagai media sosial, yakni sebagai media yang memobilisasi simpati, empati, dan dukungan terhadap berbagai persoalan kemanusiaan yang memerlukan respons masyarakat luas seperti gerakan solidaritas membantu korban bencana. Dampak negatif dari tayangan televisi antara lain adalah banyaknya kekerasan yang ditampilkan dalam banyak tayangan di televisi. Faktanya, kekerasan memang menjadi suguhan yang dihadirkan setiap hari dalam tayangan televisi. Tayangan kekerasan dilakukan oleh tayangan televisi, kepada siapa saja dan kapan saja. Faktor pendorong terjadinya kekerasan bisa berasal dari dalam diri penonton atau dari lingkungan terutama dari tayangan televisi. Jika pemenuhan terhadap naluri ini dibiarkan begitu saja, atau masyarakat selalu disuguhi dengan tayangan kekerasan, maka bisa kita bayangan kehancuran yang akan terjadi dimasa yang akan datang. Banyak pelajar kita yang sekarang tidak lagi merasa bangga jika mereka berprestasi di mata pelajaran tertentu. Atau menjadi anak yang dikenal baik, suka menolong, suka memberi atau anak yang menghormati orang tua. Tapi mereka menjadi bangga jika mereka mampu menjatuhkan teman-temannya. Bahkan akan semakin bangga jika temannya tersebut sampai berdarah-darah bahkan sampai pingsan. Tidak hanya terjadi pada anak SD, secara lebih umum anak SMP, SMA, bahkan mahasiswa telah terkena trend bangga dengan kekerasan. Tapi mewakili banyaknya tindak kekerasan yang terjadi di masyarakat. Penyakit bangga dengan penyimpangan yang dilakukan telah merasuki banyak individu-individu di masyarakat. Tidak hanya pada anak-anak bahkan hingga kakek-kakek. Peran orang tua tidak akan berjalan optimal jika tidak didukung lingkungan yang kondusif baik dari lingkungan riil di masyarakat maupun media televisi. Peran pemerintah juga sangat penting disini. Orangtua harus diberikan pendidikan mengenai bagaimana cara mendidik anak yang benar. Dan harus ada sistem hukum yang tegas mengatur masalah kekerasan.

Film Horor dan Seks

Oleh Roma Hadi Tri Susangka Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah malang roma_umm@yahoo.co.id FILM horor tengah menjamur di Indomesia. Namun, banyak film horor yang beredar di Indonesia hanya mementingkan nilai jual tanpa memperdulikan kualitas. Film bergenre horor sekarang justru menjadi genre andalan yang banyak disukai penonton Indonesia. Judul film horor di Indonesia dibuat simpel dan terkesan kurang kreatif. Banyak judul film yang diambil dari nama makhluk halus, seperti Jaelangkung, Pocong, Kuntilanak, Genderwo dan Sundel Bolong. Hal itu membuktikan bahwa makhluk halus menjadi komoditi yang sangat menguntungkan. Selain judul yang diambil langsung dari nama makhluk halus, nama tempat menjadi pilihan lain, sebut saja Lawang Sewu, Rumah Pondok Indah, Terowongan Casablangca dan lain sebagainya. Menonton film horor sah-sah saja. Walaupun menurut islam hukumnya mubah. Artinya boleh ditonton dengan catatan tidak mempraktekan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, ada hantu dan tayangan pembunuhan. Kalau sampai tayangan film itu mempengaruhi tindakan penonton maka hukumnya bisa haram. Film horror sangat disukai, walupun setelah menonton akan mengakibatkan rasa takut, tegang, kaget dan membuat penasaran. Film horor kini banyak dibumbui dengan adegan seks. Adegan seks pada film horor awalnya hanya dijadikan pelengkap saja, tapi lama-kelamaan adegan seks justru menjadi inti cerita. Oleh karena itu, yang menjadi pertanyaan, apakah film horor yang dijadikan inti cerita, atau justru film sekslah yang dijadikan inti ceritanya. Karena film horor kini menyajikan adegan seks secara vulgar dan sangat berlebihan. Masyarakat teutama remaja sangat menyukai film horor yang menampilkan adegan seks. Sudah banyak kasus anak remaja yang terjebak dalam pergaulan bebas dan hamil di luar nikah setelah sering menonton tayangan berbau seks. Remaja dapat terpengaruh tayangan berbau seks tersebut untuk ditiru dalam kehidupan sehari-harinya.. Tontonan menjadi tuntunan para remaja sekarang, Karena remaja identik dengan sikap meniru/imitasi. Masyarakat atau remaja cenderung berusaha menyamakan dirinya dengan mereka yang diidolakannya. Seperti rambut gimbal Mbah Surip yang kini banyak ditiru dan dijadikan gaya rambut masyarakat atau remaja masa kini. Penonton terutama remaja hendaknya harus pintar memilih film yang akan ditontonnya. Karena masih banyak film Indonesia yang berkualitas dan layak untuk disaksikan. Carilah tontonan yang dapat menjadi tuntunan dan dapat menambah wawasan kita.

Kereta Api dan Mudik

Oleh Roma Hadi Tri Susangka Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang roma_umm@yahoo.co.id MASYARAKAT Indonesia masih menjadikan kereta api sebagai primadona. alat transportasinya. Karena kereta api masih sangat berperan penting dan sangat strategis, sebagai alat transportasi murah dan efisien. Apalagi menjelang arus mudik lebaran seperti sekarang ini. Dimana penumpang akan melomjak drastis dari hari biasanya. Namun apakah pelayanan yang diberikan oleh manajemen PT. KAI ini sudah memuaskan. Tentu jawabannya masih belum, karena masih banyak kekurangan dan kelemahan terutama pada pelayanan kereta api ekonomi. Kekurangan dan kelemahan yang kiranya masih terus terjadi diataranya adalah keterlambatan jadwal pemberangkatan kereta api yang menurut hemat penulis keterlambatan ini sudah menjadi budaya di badan perkeretaapian di Indonesia dan diistilahkan oleh penumpang-penumpangnya, bahwa jadwal kereta api sebagai jam karet. Karena hamper setiap pemberangkatan selalu mengalami keterlambatan. Masalah berikutnya adalah jumlah penumpangnya yang banyak dan melebihi kapasitas angkut. Hal itu membuat ketidaknyamanan para penumpangnya. Berjubelnya penumpang itu disebabkan oleh keterbatasan armada yang dimiliki PT. KAI dan jumlah penumpang yang terus bertambah dari tahun ketahun. Manajemen PT. KAI harus bekerja keras dalam membenahi kekurangan dan kelemahan dalam pelayanannya. Manajemen PT. KAI juga harus melakukuakan pengamanan secara teknis seperti pemeriksaaan rel, bantalan, mur, kerikil dan sekrup pengikat rel dari bahaya bencana dan pencurian oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Sehingga rel yang rawan patah, bantalan rapuh, kekuatan rel yang menurun, kereta anjlog dan segainya dapat dihindari. Jika kekurangan dan kelemahan itu segera dibenahi, maka berbagai kecelakaan yang kerap terjadi seperti disebabkan karena kurangnya sarana dan prasarana, lemahnya SDM, dan dari faktor eksternal seperti bencana alam dapat diminimalisir. Sehingga kereta api pada arus mudik lebaran nanti dapat berjalan lancar dan menjadi transportasi massal yang digemari masyrakat karena murah, nyaman, dan aman.

RUU Rahasia Negara Vs Demokrasi

Oleh Roma Hadi Tri Susangka Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang roma_umm@yahoo.co.id Rancangan Undang-Undang (RUU) Rahasia Negara sebaiknya segera ditolak ditinjau ulang. Karena penulis merasa bila RUU itu benar-benar di sahkan, maka Indonesia akan kembali lagi menjadi negara otoriter atau kembali era orde baru. Indonesia belum terlalu membutuhkan UU Rahasia Negara. Indonesia masih lebih butuh banyak akses publik untuk mendorong transparasi dan akuntabilitas yang masih belum berjalan. Kehadiran RUU Rahasia Negara dikhawatirkan dapat menghambat semangat demokrasi. Menurut hemat penulis RUU Rahasia Negara masih terdapat kekaburan (multitafsir) dan pengertian yang terlalu luas untuk menerjemahkan ukuran rahasia negara. Parameter atau batasan seperti apa dan kepada siapa RUU ini dituju? Badan, pers, masyarakat atau pihak asing? karena itu RUU ini banyak ditolak oleh sejumlah kalangan seperti kalangan jurnalis dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Karena mengancam keberadaan kebebasan pers, melanggar HAM dan memunculkan pemerintahan yang otoriter yang tidak menjunjung nilai demokratis dalam seriap pengambilan keputusannya. Penulis dapat memberikan ilustrasi akan Kekaburan dalam UU Rahasia Negara, seperti ketika seorang wartawan sertelah reportase memberikan informasi kepada publik tentang jumlah anggaran yang telah disalahgunskan oleh instansi atau lembaga pemerintah, maka dengan alasan data negara yang dirahasiakan, maka sang wartawan dapat dijebloskan ke dalam penjara. RUU Rahasia Negara juga sangat bertentangan dengan Undang-Undang Kebebasan Informasi Publik (KIP) dan UU Pers. Penulis berpendapat seandainya RUU itu dipertahankan atau bahkan disahkan, maka birokrasi dan politik kita akan sama dengan keadaan birokrasi dan politik di negara komunis atau negara totaliter. Padahal Negara Indonesia menganut sistem demokrasi. Artinya, asas transpareasi dan pertanggungjawaban publik harus ditegakkan. Birokrasi kita harus benar-benar transparan, bersih, akuntabel, dan professional. Birokrasi pemerintah harus transparan dan terbuka bagi pengawasan publik yang masih sangat diperlukan. Jangan malah ditutupi dan dilindungi oleh Negara melalui UU Rahasia Negara. Hal itu dapat dikhawatirkan akan melindungi koruptor politik atau disalahgunakan oleh aparatus untuk menyalahgunakan wewenang.. Korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) akan kembali subur. Maka negara ini akan kembali mengalami keterpurukan. Karena tidak hanya instansi pemerintah yang tidak transparan, bahkan instansi TNI, Kepolisian ataupun kejaksaan akan sulit tersentuh hukukum atau kebal hokum. Maka Pengesahan RUU Rahasia Negara akan mengganggu kontrol masyarakat terhadap pemerintah. Apalagi, sanksi pidananya tergolong sangat berat yaitu pada pelanggaran dengan tingkatan yang “sangat rahasia” dapat dikenai hukuman mati atau seumur hidup. Hal itu sangat tidak relevan dan berpotensi mengancam Hak Asasi Manusia (HAM), kebebasan pers dan kebebasan publik dan dapat menghambat semangat demokrasi.

Selasa, 01 September 2009

Iklan Sekolah Gratis

Jumat, 31 Juli 2009 | 8:32 WIB | Posts by: jps | Kategori: Warteg | SEKOLAH gratis memang menjadi harapan masyarakat Indonesia seiring tingginya biaya pendidikan kita. Sementara jumlah penduduk miskin di negeri ini semakin bertambah. Tapi benarkah semua kebutuhan seorang siswa yang akan bersekolah benar-benar digratiskan oleh pemerintah terutama untuk wajib belajar 9 tahun. Tentu jawabannya tidak mungkin. Kebutuhan akan seragam siswa seperti seragam putih, biru, pramuka, olahraga, baju batik. Kebutuhan buku seperti buku LKS, buku penunjang. Kebutuhan kegiatan seperti ekstrakulikuler, les, studi wisata. Kebutuhan kelengkapan siswa seperti asuransi, kartu identitas siswa, dan masih banyak lagi tidak mungkin dapat digratiskan. Dengan gencarnya iklan layanan masyarakat, berupa sekolah gratis di media cetak dan elektronik, dinilai menyesatkan. Hal itu kiranya tidak berlebihan. Yang namanya sekolah gratis ya harusnya semua kebutuhan siswa digratiskan. Tidak ada pungutan atau biaya sama sekali. Masyarakat tidak butuh iklan sekolah gratis, tapi butuh realisasi program sekolah gratis. Kalimat iklan sekolah gratis kurang tepat digunakan, karena pemerintah hanya menggratiskan SPP, pembelian buku teks pelajaran, biaya ulangan harian, serta biaya perawatan operasional sekolah melalui dana BOS. Faktanya, masih banyak celah yang dapat dimainkan pihak sekolah untuk memungut biaya tambahan pada siswa. Pemerintah hendaknya lakukan program sekolah gratis itu ke sekolah, dan nantinya masyarakat dapat menilainya. Dengan anggaran penidikan 20 persen dari total APBN atau kurang lebih Rp 200 triliun, seharusnya sekolah harus benar-benar sudah digratiskan secara merata dan menyeluruh. Iklan sekolah gratis jangan hanya untuk politisasi. Pemerintah seolah-olah memberikan kebijakan yang populis, padahal hal itu pencitraan semata. Kita jangan lupa, pemerintah baru menganggarkan biaya pendidikan sebesar 20 persen dari total APBN setelah digugat oleh para guru melalui PGRI. Puluhan miliar untuk penayangan iklan layanan masyarakat berupa sekolah gratis di mana-mana tidaklah berguna. Apalagi, pemerintah belum dapat menggratiskan sepenuhnya kebutuhan para siswa itu. Tujuan utama pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. SPP gratis hendaknya jangan sampai menurunkan kualitas pendidikan. Karena untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas juga dibutuhkan sekolah yang berkualitas juga. Oleh Roma Hadi Tri Susangka Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang roma...@yahoo.co.id Berita Terkait 1 Komentar untuk berita “Iklan Sekolah Gratis” nun said on Rabu, Agustus 5, 2009, 23:09 saya bukan tidak setuju terhadap pendapat saudara, hanya saja pemerintah tidak begitu saja dapat disalahkan. usah pemerintah sudah bagus dan baik dengan menggratiskan pendidikan, sayangnya sdm kita (termasuk guru dan segala civitas akademikanya) masih atau sudah bobrok moral sehingga keinginan mulia itu (sekolah gratis) akhirnya tidak kesampaian. jadi, masih juga salah pemerintah? jadi harus bagaimana pemerintah kita ini?